
Membina Santri di Era Digital
(Antara Masa Lalu, Masa Kini, dan Masa Depan)
Oleh: Ahmad Dahlan
Kita ini para guru. Kita dibentuk oleh masa lalu masa ketika dunia berjalan lebih pelan, manusia saling memandang, dan pesan disampaikan lewat tatap, bukan tautan. Hari ini, kita berhadapan dengan generasi yang dibesarkan oleh notifikasi, tumbuh bersama layar, dan belajar di tengah gelombang informasi yang tak pernah reda.
Lalu, pertanyaannya muncul: bagaimana kita, para guru dari masa lalu, bisa membina generasi masa kini untuk hidup sebagai manusia masa depan?
Ini bukan tugas kecil. Tapi juga bukan tugas mustahil. Justru di sinilah letak keindahan peran guru, menjadi jembatan antara nilai yang abadi dan zaman yang terus berubah.
- Kita Tidak Sedang Menggandakan Diri Kita
Kesalahan mendidik hari ini terjadi ketika kita merasa anak-anak ini harus menjadi seperti kita dulu. Padahal, mereka hidup di lanskap budaya dan tantangan yang berbeda. Kita tidak sedang mencetak ulang diri kita. Kita sedang mempersiapkan manusia yang mampu hidup dalam dunia yang kita sendiri belum tahu wujudnya.
Kita perlu menjadi guru yang lentur siap belajar ulang, dan tak merasa kalah bila santri lebih cepat paham teknologi. Yang penting bukan siapa lebih tahu, tapi siapa lebih bisa membimbing.
- Hadir sebagai Guru, Bukan Sekadar Pengajar
Santri bisa belajar dari YouTube, tapi mereka tak bisa merasakan kasih dari layar. Mereka bisa mencari jawaban lewat AI, tapi tak bisa mencium aroma ketulusan seperti dari doa gurunya. Maka, kehadiran kita tak tergantikan.
Sholat berjamaah bersama mereka, makan bersama, atau bahkan hanya duduk diam di serambi masjid itu bukan aktivitas remeh. Keberadaan kita adalah pelindung psikologis mereka.
Seperti yang dikatakan oleh Buya Hamka dalam Lembaga Hidup (1940):
“Pendidikan yang sejati bukanlah menjejalkan ilmu, melainkan menumbuhkan jiwa.”
Jiwa itu tumbuh dari sentuhan. Dari kehadiran. Dari perasaan “aku tidak sendiri, guruku ada.”
- Ajarkan Kecakapan yang Melampaui Zaman
Santri kita akan hidup di dunia yang belum ada hari ini. Maka tanamkan kecakapan yang tahan zaman, bukan sekadar keterampilan sesaat.
Ajarkan mereka:
- Ketulusan dalam bekerja, bukan hanya keinginan dilihat.
- Ketangguhan ketika gagal, bukan hanya semangat saat sukses.
- Ketajaman berpikir, bukan hanya hafalan.
- Kesadaran ruhani, bukan hanya rutinitas ibadah.
Yuval Noah Harari dalam 21 Lessons for the 21st Century (2018) menulis:
“In a world deluged by irrelevant information, clarity is power.”
“Di dunia yang dibanjiri informasi yang tidak relevan, kejernihan adalah kekuatan.”
Dan kejernihan tidak datang dari teknologi, tapi dari hati yang tenang. Di sinilah guru hadir, mengajarkan bukan hanya apa yang harus dikerjakan, tapi juga mengapa dan untuk siapa itu dilakukan.
- Jangan Gagap Teknologi, Tapi Jangan Juga Menyembahnya
Teknologi adalah alat, bukan arah. Kita tidak perlu menjadi ahli coding, tapi kita tidak boleh alergi digital. Tugas kita adalah membimbing santri menyikapi teknologi secara sehat dan beradab.
Ajari mereka menggunakan gawai/Hp bukan untuk kabur dari dunia nyata, tapi untuk memperluas ilmu. Bukan hanya menonton, tapi juga mencipta. Bukan sekadar konsumsi konten, tapi juga kontribusi nilai.
- Bimbing Mereka Kembali ke Pusat Kehidupan: Hati dan Tuhan
Di tengah derasnya arus informasi, anak-anak kita bisa hanyut jika tak punya jangkar ruhani. Maka, ajarkan mereka untuk kembali kepada Allah bukan hanya di kitab fiqih, tapi juga dalam perilaku harian.
Mereka harus tahu bahwa hidup bukan hanya tentang kecepatan, tapi juga ketepatan. Bukan hanya tentang pencapaian, tapi tentang keberkahan.
Guru Adalah Penjaga Peradaban
Mendidik di era digital memang berat. Tapi jangan pernah merasa sendiri. Sebab tugas kita bukan sekadar mengajarkan ilmu, tapi menjaga cahaya.
Seperti kata Sayyid Quthb dalam Ma’alim fi Thariq:
“Seorang pendidik sejati tidak hanya menanamkan pemahaman, tetapi menghidupkan ruh dalam hati murid-muridnya.”
Maka teruslah hadir. Teruslah membina. Karena santri tidak hanya butuh guru yang tahu, tapi guru yang ada.




