
MENJAGA BI’AH KUNCI PEMBINAAN SANTRI DI PESANTREN
Oleh: Ahmad Dahlan
Salah satu kekuatan utama pendidikan pesantren bukan semata pada kurikulum formal, melainkan pada kemampuannya membangun bi’ah atau lingkungan pendidikan yang hidup. Bi’ah shalihah yang tercipta di pesantren menjadi media pendidikan yang berjalan tanpa henti, mendidik para santri secara alami melalui pembiasaan, keteladanan, dan atmosfer yang sarat nilai.
Setiap waktu dan aktivitas yang dijalani santri di pesantren sebenarnya dirancang menjadi bagian dari pendidikan karakter. Ketika waktu belajar tiba, seluruh santri dikondisikan untuk fokus menuntut ilmu. Ketika adzan berkumandang, semua diarahkan untuk bersegera menuju masjid melaksanakan shalat berjamaah. Begitu pula dalam makan bersama, olahraga, kebersihan asrama, gotong royong, hingga waktu istirahat. Semuanya mengalir dalam alur keteraturan yang menanamkan disiplin dan tanggung jawab.
Dalam bi’ah seperti ini, pembiasaan bekerja secara alami membentuk karakter. Santri yang awalnya malas belajar, lambat laun merasa terpanggil untuk menyesuaikan diri karena lingkungan sekitarnya terus memberi contoh. Santri yang enggan shalat berjamaah akan merasa malu jika terus berbeda dari kawan-kawannya. Dorongan batin, rasa malu yang positif, dan semangat kebersamaan menjadi motor penggerak perubahan perilaku.
Hal ini sejalan dengan pendapat John Dewey, tokoh pendidikan progresif, yang menyatakan,
“Education is not preparation for life; education is life itself.” (John Dewey, Democracy and Education, 1916). Pendidikan bukan sekadar persiapan hidup, melainkan kehidupan itu sendiri.
Dalam konteks pesantren, kehidupan sehari-hari yang penuh dengan pembiasaan positif menjadi pendidikan itu sendiri bagi santri.
Dalam kajian psikologi perkembangan, Albert Bandura mengemukakan teori social learning (pembelajaran sosial), bahwa anak-anak belajar banyak melalui pengamatan dan peniruan terhadap model di sekitarnya. Guru dan pembina di pesantren merupakan model yang paling dekat bagi santri. Bandura menegaskan:
“Most human behavior is learned observationally through modeling.” (Albert Bandura, Social Learning Theory, 1977). Sebagian besar perilaku manusia dipelajari melalui pengamatan dan peniruan.
Namun, keberhasilan pembentukan bi’ah sangat bergantung pada peran aktif guru, ustadz, pembina, dan pengasuh. Mereka adalah pilar utama penjaga atmosfer kehidupan pesantren. Bukan hanya mengajar di kelas, melainkan hadir sebagai figur pembimbing dalam seluruh lini kehidupan santri. Setiap sikap guru akan direkam santri sebagai standar perilaku. Ketika guru konsisten berjamaah, santri mencontoh. Ketika guru disiplin, santri belajar menghargai waktu. Ketika guru santun, santri belajar sopan santun.
Sebaliknya, ketika guru mulai longgar, suasana bisa dengan cepat bergeser. Santri mudah menangkap celah dan mengikuti kelonggaran itu. Oleh karena itu, guru tidak boleh lelah menjaga konsistensi dirinya, karena ia sedang membangun keteladanan hidup. Inilah hakikat dari pepatah pesantren:
“Santri itu meniru apa yang mereka lihat, bukan sekadar apa yang mereka dengar.”
Dalam pembinaan santri, ketegasan bukan berarti kekerasan. Ketegasan bermakna kesungguhan dalam menjaga nilai, kesabaran dalam pembimbingan, dan ketulusan dalam mengarahkan. Guru harus mampu memadukan kontrol dan kasih sayang, mengelola ketertiban tanpa mematikan keceriaan, membangun disiplin tanpa menghilangkan keakraban. Di sinilah seni mendidik ala pesantren.
Keberhasilan pembinaan pesantren bukanlah kerja sesaat, tetapi buah dari kesinambungan. Bi’ah yang terjaga baik akan melahirkan pribadi santri yang kokoh iman, kuat akhlak, mandiri, dan siap menghadapi tantangan zaman. Karena itu, para guru dan pembina harus senantiasa menyadari bahwa tugas mereka bukan sekadar mengajar, melainkan menjaga denyut kehidupan pesantren agar tetap memancarkan nilai dan cahaya pendidikan sepanjang waktu.
Inilah seni pendidikan pesantren, mendidik bukan hanya melalui lisan, tetapi melalui kehadiran, pembiasaan, dan keteladanan yang hidup di tengah keseharian.




