
Belajar Berkurban, Belajar Peduli
Oleh: Ahmad Dahlan
Di pondok, kurban bukan sekadar menyembelih kambing atau sapi. Kadang, santri hanya mampu urunan seadanya cukup untuk satu ekor kambing. Namun nilainya jauh lebih besar dari sekadar jumlah.
Di situlah pelajaran dimulai:
belajar memberi, belajar merelakan, dan belajar peduli.
Kurban bukan hanya perkara sah atau tidak menurut fiqih. Lebih dari itu, kurban adalah perkara rasa:
Sudahkah kita rela? Sudahkah kita peduli?
Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak ada amal pada hari kurban yang lebih dicintai Allah selain menumpahkan darah.” (HR. Tirmidzi)
Namun para ulama sepakat, darah di sini bukan semata tentang fisik. Ia adalah simbol dari pengorbanan yang tulus dan ikhlas.
Maka ketika seorang santri ikut urunan, meski tak seberapa, sejatinya ia sedang berlatih menjadi insan yang tidak hanya sibuk dengan dirinya sendiri. Ia sedang belajar memberi, walau sedikit. Dan itu adalah langkah awal menuju kepedulian.
Imam al-Ghazali pernah menekankan:
“Ibadah lahiriah harus tersambung dengan makna batin.”
Menyembelih hewan kurban hanyalah simbol.
Yang sejatinya harus disembelih adalah rasa kikir, kerakusan, dan sikap tak peduli pada sesama.
Kurban adalah jalan membersihkan hati dan menyuburkan jiwa yang peduli.
Pondok tak pernah mengajarkan kita untuk menjadi kaya.
Pondok mengajarkan kita untuk merasa cukup, cukup untuk bisa berbagi. Dan dari kecukupan itu, tumbuh keberkahan.
Maka biarlah kurban santri sederhana. Karena dari kesederhanaan itu, Allah menilai keikhlasan. Dan dari keikhlasan itulah, tumbuh keberanian untuk mencintai sesama.




