
Ketika Masjid Kehilangan Generasinya
Oleh Ahmad Dahlan
Di kampung-kampung kita, sering terlihat anak-anak kecil digandeng ayahnya ke masjid. Ada yang berlari di teras, ada yang menirukan takbir imam dengan suara kecil, ada pula yang tertidur di pangkuan ibunya sambil menunggu isya’. Pemandangan itu indah, seperti bunga-bunga kecil yang sedang belajar mekar di halaman rumah Allah.
Tetapi ada satu pertanyaan yang mengganggu hati kita: mengapa ketika mereka besar, kebiasaan itu hilang? Masjid yang dulu akrab, kini terasa jauh. Anak-anak yang dulu ribut di saf depan, kini entah di mana.
Sesungguhnya, waktu kecil mereka datang karena dituntun. Mereka belum paham makna shalat, belum mengerti mengapa masjid itu penting. Mereka datang karena dibawa. Dan itu adalah awal yang sangat baik. Namun, jika kebiasaan itu tidak dipelihara dengan kesadaran, maka begitu tangan orang tua terlepas, langkah mereka pun menjauh.
Imam al-Ghazali pernah berpesan dalam Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn:
“Anak itu amanah bagi kedua orang tuanya. Hatinya suci, ibarat permata yang murni. Jika dibiasakan pada kebaikan, ia akan tumbuh di atas kebaikan. Jika dibiarkan, maka ia akan tersesat.”
Begitu pula, Syekh Ibnu ‘Athaillah al-Sakandari mengingatkan:
“Tidak ada yang lebih bermanfaat bagi hati selain duduk di hadapan Allah, dalam dzikir dan ibadah.”
Inilah yang sering luput: menumbuhkan rasa butuh kepada Allah, menjadikan masjid sebagai rumah bagi hati. Jika cinta itu sudah tertanam, meski badai dunia menggoda, mereka akan selalu kembali.
Maka, membiasakan anak kecil ke masjid adalah permulaan. Menjadikan masjid sebagai tempat ia merasa dicintai, itulah kelanjutan. Orang tua harus istiqamah, guru harus menuntun dengan sabar, dan masjid harus membuka pintunya dengan kasih.
Anak-anak yang besar tanpa masjid akan mudah kehilangan arah. Tapi anak-anak yang hatinya tertambat pada masjid, meski jauh langkahnya, ia akan pulang.




