KH. IMAM ZARKASYI DAN KH. ABDULLAH SYUKRI ZARKASYI.
Konten Instagram Liburan Bersama Anak Ilustrasi Ungu

KH. IMAM ZARKASYI DAN KH. ABDULLAH SYUKRI ZARKASYI.

Pak kiai Imam Zarkasyi adalah kiai yang kaya tawakkal. Beliau pernah mengatakan: Andaikan santriku tersisa satu orang, maka aku akan tetap mengajarinya. Tapi jika yang satu ini tidak ada, maka aku akan mengajari manusia dengan penaku. Pak kiai Abdullah Syukri pun pernah mengatakan: Santri itu Rizki. Artinya, rizki itu terkadang bertambah dan terkadang berkurang. Maka sikap bagaimana yang harus dimiliki oleh para kiai ketika rizki santrinya bertambah atau berkurang. Masing² boleh berkontribusi pikiran.

Statemen diatas sangat relevan dengan tradisi Pesantren, manhaj tarbiyah, dan akhlak kiai. Dan
Apa yang dikatakan KH. Imam Zarkasyi dan KH. Abdullah Syukri sesungguhnya adalah tafsir hidup tentang tawakkal, ikhlas, dan istiqamah dalam dakwah:

  1. Santri sebagai Rizki: Cara Pandang Tauhid.
    Pernyataan “Santri itu rizki” bukan ungkapan ekonomi, tapi tauhid rububiyah.
    Allah berfirman:
    وَمَا مِن دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا
    “Tidak satu pun makhluk di bumi melainkan Allah yang menjamin rizkinya.”
    (QS. Hud: 6)
    ➡️ Santri bukan milik kiai, bukan pula hasil strategi marketing, melainkan amanah yang Allah titipkan.
    Maka:
    Bertambah → syukur
    Berkurang → sabar
    Hilang → ridha
  2. Sikap Kiai Saat Rizki Santri Bertambah
    1️⃣ Syukur, bukan ujub
    لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ (QS. Ibrahim: 7)
    Tidak membanggakan jumlah
    Tidak menjadikan santri sebagai alat prestise
    Memperbaiki kualitas, bukan hanya kuantitas
    2️⃣ Rasa takut (khauf) akan amanah.
    Ulama salaf berkata:
    “Banyaknya pengikut adalah ujian, sedikitnya pengikut adalah penjagaan.”
    ➡️ Banyak santri = tanggung jawab berat:
    Akhlak
    Aqidah
    Masa depan mereka
    3️⃣ Tawadhu’ dan pelayanan
    Semakin banyak santri → semakin rendah hati
    Kiai menjadi pelayan tarbiyah, bukan penguasa lembaga
  3. Sikap Kiai Saat Rizki Santri Berkurang
    Inilah ujian tawakkal yang paling halus.
    1️⃣ Sabar tanpa putus asa
    Allah berfirman:
    فَاصْبِرْ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ
    (QS. Ar-Rum: 60)
    ➡️ Berkurang bukan selalu kegagalan, bisa jadi:
    Penyaringan kualitas
    Penjagaan keikhlasan
    Penguatan ruh dakwah
    2️⃣ Muhasabah tanpa menyalahkan takdir.
    Bertanyalah:
    Apakah adab pendidik terjaga?
    Apakah ilmu diamalkan?
    Apakah niat masih lurus?
    Bukan: ❌ menyalahkan zaman
    ❌ menyalahkan wali santri
    ❌ menyalahkan santri
    3️⃣ Istiqamah dalam mengajar
    Di sinilah makna ucapan KH. Imam Zarkasyi:
    “Jika santrimu tinggal satu, aku tetap mengajarinya.”

Ini adalah:
Ikhlas total
Dakwah tanpa syarat
Mengajar karena Allah, bukan karena banyak murid

Bahkan:
“Jika yang satu itu pun tidak ada, aku akan mengajari manusia dengan penaku.”
➡️ Ilmu tidak tergantung ruang, dan dakwah tidak tergantung jumlah.

  1. Kaya Tawakkal: Kiai Tidak Bergantung pada Kuantitas
    Kiai yang kaya tawakkal:
    Tidak takut pesantrennya sepi
    Tidak panik saat santri berkurang
    Tidak silau saat santri membludak
    Karena keyakinannya:
    الرزق بيد الله لا بيد البشر
    “Rizki di tangan Allah, bukan di tangan manusia.”
  2. Sintesis Dua Pernyataan Ulama Besar
    KH. Imam Zarkasyi
    KH. Abdullah Syukri
    Istiqamah dalam misi
    Tawakkal dalam rizki
    Mengajar meski sendiri
    Santri naik-turun.

Ilmu tak bergantung jumlah
Rizki tak tetap
➡️ Keduanya bertemu pada satu titik: mengajar karena Allah, bukan karena santri.

  1. Kesimpulan Praktis (Sikap Kiai yang Ideal)
    Saat santri bertambah:
    Syukur
    Tawadhu’
    Memperbaiki kualitas
    Takut pada amanah

Saat santri berkurang:
Sabar
Muhasabah
Istiqamah
Ridha pada ketetapan Allah.

Penutup (Hikmah Pesantren)
“Pesantren tidak hidup karena banyak santri, tetapi karena keikhlasan kiai. Santri datang dan pergi, tetapi dakwah tidak boleh berhenti.”

والله أعلم بالصواب