Menolak Lelahnya Belajar, Siap Menanggung Bodohnya Hidup
Konten Instagram Berita Umum Editorial Kontemporer Hijau Putih Merah

Menolak Lelahnya Belajar, Siap Menanggung Bodohnya Hidup

Oleh: Ahmad Dahlan

Dalam struktur kehidupan, ada hukum alam yang tak bisa dihindari, tidak ada hasil tanpa proses, tidak ada panen tanpa tanam, dan tidak ada ilmu tanpa perjuangan. Kalau hari ini kita alergi terhadap kelelahan intelektual, maka jangan kaget kalau esok kita harus menanggung kegagalan sistemik baik sebagai individu, masyarakat, bahkan bangsa.

Belajar Itu Berat, Tapi Bodoh Lebih Berat

Mari kita tarik satu kalimat dari warisan ulama klasik yang sering dilupakan generasi hari ini:
“من لم يذق ذل التعلم ساعة، تجرع ذل الجهل طول حياته”
“Barang siapa yang tidak merasakan pahit dan hinanya belajar walau sesaat, maka dia akan meneguk pahitnya kebodohan sepanjang hidupnya.”

Kalimat ini bukan sekadar ungkapan retoris. Ia adalah peta realitas. Jika hari ini kita menolak untuk bersusah payah memahami ilmu, mengkaji ulang pelajaran, membuka kembali buku-buku tebal yang membosankan, maka kita sedang menulis nasib kita sendiri menjadi pribadi yang tak akan mampu membaca tanda-tanda zaman.

Bodoh bukan sekadar tak tahu. Bodoh adalah ketika seseorang tidak bisa membedakan yang penting dan yang remeh, tidak tahu mana jalan keselamatan dan mana jurang kehancuran. Dalam konteks masyarakat, kebodohan bisa menjadi bencana kolektif. Ketika yang bodoh diberi kekuasaan, maka lahirlah ketidakadilan yang sistemik. Ketika yang bodoh merasa pintar, maka lahirlah generasi yang angkuh tapi rapuh.

Scroll Pintar, Tapi Kosong

Kita hidup di era digital, tapi bukan berarti kita hidup di era ilmu. Pengetahuan tersedia di ujung jari, tapi tidak ada jaminan bahwa kita menggunakannya untuk berpikir. Kita lebih sering menggunakan jempol daripada otak. Kita lebih terbiasa menyerap informasi cepat daripada merenung dalam. Kita sibuk scrolling, tapi minim thinking.

Hari ini, banyak yang merasa cukup dengan membaca ringkasan, menonton video edukasi singkat, atau mendengarkan podcast sambil rebahan. Semua serba instan. Tapi kita lupa bahwa ilmu sejati tidak dibentuk di permukaan. Ia membutuhkan waktu, pengorbanan, dan ketekunan. Ilmu tidak bisa didapat lewat jalan pintas. Tidak ada shortcut menuju kedalaman.

Pesantren, Laboratorium Ketahanan Ilmu

Pesantren, dalam segala kesederhanaannya, justru mewarisi sistem pendidikan yang paling kokoh dalam membentuk manusia pembelajar. Ia adalah kawah candradimuka bagi mereka yang ingin belajar secara utuh dengan akal, hati, dan disiplin diri. Santri dibangunkan sebelum subuh, diminta membaca sebelum sarapan, dan menghafal sebelum tidur. Ini bukan sistem yang kejam, tapi justru sistem yang paling sayang terhadap masa depan mereka.

Para guru di pesantren mengerti satu hal penting: membiarkan anak muda hidup santai hari ini adalah melempar mereka pada kesusahan esok hari. Maka teguran, hafalan, bahkan hukuman di pesantren bukan bentuk kekerasan, tapi bentuk kasih sayang paling logis. Lebih baik anak muda menangis karena belajar, daripada masyarakat menangis karena kebodohan mereka kelak.

Lelah atau Menyesal Kita Tidak Bisa Menghindar, Hidup tidak memberi ruang netral. Setiap pilihan memiliki harga. Kita bisa memilih untuk lelah sekarang agar tenang nanti, atau memilih tenang sekarang tapi menyesal di kemudian hari.
ومن فاته التعليم وقت شبابه، فكبر عليه أربعًا لوفاته
“Barang siapa yang menyia-nyiakan waktu mudanya tanpa belajar, takbirkan empat kali atasnya karena hakikatnya ia sudah mati.”

Kalimat ini bukan metafora dramatis. Ia adalah sindiran tajam terhadap generasi yang tidak menghidupkan potensi dirinya. Karena hidup tanpa belajar berarti mati sebelum ajal. Nafasnya ada, tapi ruhnya kosong. Tubuhnya hidup, tapi tidak menghidupkan.

Dunia Ini Milik Mereka yang Serius

Kita hidup di dunia nyata, bukan dunia fantasi. Di dunia nyata, orang yang bersungguh-sungguh akan maju. Yang malas akan tertinggal. Yang nyaman akan terhempas. Maka kalau kita ingin menjadi bagian dari perubahan, bagian dari kebaikan, bagian dari peradaban, maka bersiaplah untuk letih. Letih karena belajar, letih karena berpikir, letih karena memproses ilmu.

Karena satu hal pasti,
Jika kamu menolak lelahnya belajar hari ini,
kamu akan menanggung bodohnya hidup esok hari.