
“TASARROK!” KATA SAKTI DIPONDOK
Oleh: Ahmad Dahlan
Ada satu pemandangan kecil di pondok yang sering luput dari perhatian banyak orang, tapi justru menyimpan prinsip pendidikan besar. Anak-anak berlarian ke masjid ketika adzan berkumandang. Mereka bergerak cepat, seolah ada alarm dalam tubuh mereka yang otomatis menyala. Tanpa perlu dipikirkan panjang, tanpa perlu diperintah berulang-ulang.
Bagi sebagian orang, ini mungkin tampak sebagai aktivitas fisik biasa. Tapi bagi saya, ini adalah miniatur sistem pendidikan karakter yang sangat efektif. Sebuah proses pembiasaan yang tanpa sadar melatih disiplin, kecepatan respons, kesadaran tanggung jawab, bahkan pembentukan “neuro associative conditioning (NAC). sistem yang dikembangkan oleh Tony Robbins yang bertujuan untuk mengubah cara berpikir (mindset) dan memprogram ulang pikiran melalui asosiasi positif dengan tindakan atau keputusan tertentu dalam diri anak-anak.
Neuro Refleks, Pendidikan Gerak Cepat
Dalam ilmu neurosains, perilaku yang diulang secara konsisten akan menciptakan jalur saraf baru. Proses ini disebut “neuroplasticity.” Anak-anak pondok yang sejak dini mendengar adzan dan langsung bergerak menuju masjid, sedang membangun jalur refleks spiritual dalam sistem sarafnya, mendengar panggilan Allah → bergerak → merespons cepat.
Mereka belajar bahwa kebaikan itu butuh kecepatan. Ada waktu yang tidak boleh ditunda-tunda. Ada panggilan yang mesti disambut tanpa pikir-pikir. Dalam jangka panjang, ini melatih mereka menjadi pribadi yang proaktif, bukan reaktif. Sebab orang yang terbiasa menunda kebaikan, cenderung terbiasa pula menunda tanggung jawab hidup.
“Tasarrok..!!” Latihan Kesiapan
Saya jadi teringat masa-masa di pondok Gontor. Di sana ada satu kata yang sangat ikonik: “Tasarrok!” artinya: “Bergegas!” Biasanya diucapkan oleh bagian keamanan atau pengurus ketika santri harus segera bergerak.
Suara lantang:
“Tasarrok!”
Sekejap kemudian, ratusan santri bergerak serentak. Bukan karena takut, tetapi karena sudah terprogram dalam kebiasaan. Mereka dilatih untuk sigap, tanggap, dan tidak menunda.
Kalau kita cermati, sesungguhnya pendidikan semacam ini adalah pendidikan respons cepat (rapid response training). Anak-anak tidak diajari teori tentang kecepatan, tetapi dilatih secara praktis untuk langsung bereaksi terhadap stimulus yang tepat.
Hitungan 10: Teori Disiplin yang Sederhana
Ada satu lagi metode yang menarik: hitungan sepuluh. Setelah sholat Isya’, pengurus asrama biasanya berkata:
“Ana ahsub hatta ‘asaroh.”
(“Saya hitung sampai sepuluh.”)
Lalu terdengar hitungan:
“Wahid, isnani, salasah…… ‘asaroh!”
Ajaibnya, sebelum angka sepuluh diucapkan, sudah tidak ada santri yang masih berdiri di koredor asrama. Semua sudah di tempat belajar. Ini adalah bentuk sederhana dari sistem manajemen waktu berbasis time framing, yaitu pembatasan waktu secara tegas, yang melatih anak-anak agar mampu mengatur waktu secara disiplin tanpa tekanan psikologis berat.
Dalam psikologi kognitif, pembatasan waktu seperti ini akan memaksa otak kecil (cerebellum) untuk belajar mengatur kecepatan gerak dan membuat estimasi waktu internal. Akhirnya, terbentuklah kebiasaan menghargai waktu secara otomatis.
Dimensi Pendidikan Modern yang Terlupakan
Uniknya, banyak sistem pendidikan modern yang terlalu sibuk dengan rumus, teori, dan kurikulum kognitif, namun justru melupakan latihan-latihan kecil seperti ini, latihan bergerak cepat, latihan merespons, latihan mengelola waktu dalam hitungan detik.
Padahal, dalam kehidupan nyata, keberhasilan seseorang bukan hanya bergantung pada intelektualitas, tetapi juga pada kecepatan tanggap dan ketepatan waktu. Seorang profesional yang cerdas tapi lambat merespons, tetap akan tertinggal.
Boleh jadi itulah mengapa kita sering melihat sebagian orang dewasa yang masa kecilnya tak pernah mengalami latihan seperti “tasarrok” tumbuh menjadi pribadi yang lamban bertindak, lambat mengambil keputusan, dan lamban menunaikan tanggung jawab.
Pendidikan Yang Berlari Menuju Tuhan
Sesungguhnya, pendidikan pondok dengan tasarrok, hitungan sepuluh, dan berlarian ke masjid sedang mengajarkan prinsip dasar keberagamaan itu sendiri. Bahwa hidup adalah perjalanan menuju Allah, yang menuntut kesiapan, kecepatan, dan kesigapan.
Sebagaimana firman Allah:
“Bersegeralah kalian menuju ampunan dari Tuhan kalian.” (QS. Ali Imran: 133)
Maka, ketika anak-anak itu berlari kecil menuju masjid saat adzan berkumandang, sesungguhnya mereka sedang mempraktikkan makna “fafirru ilallah” bersegeralah menuju Allah. Pendidikan yang bukan sekadar ilmu, tetapi lari-lari kecil menuju Tuhan.
“Dalam hal-hal kecil di pondok tersimpan sistem pendidikan karakter yang begitu dalam. Semoga para guru dan pembina senantiasa memelihara tradisi-tradisi kecil yang sarat makna ini.”




