Santriwati Pondok Pesantren Thoha Ikuti Pelatihan Tajhizul Jenazah, Tingkatkan Keterampilan dalam Mengurus Jenazah
WhatsApp Image 2025-01-30 at 22.50.25

Tajhîzul janâzah adalah tata cara dalam mengurus seseorang yang telah wafat sesuai dengan syari’at islam. Berasal dari Bahasa arab yaitu jahhaza – yujahhizu (جهز – يجهز ) yang artinya menyiapkan, yang behukum fardlu kifayah.

Yang Dimana pelatihan ini dilatih oleh hj. Rahmi kusbandiah dan Adapun 5 santriwati dan 2 ustadzah yang dilatih yakni :

  • Ustadzah nurul hidayah
  • Ustadzah elvianda zora
  • Fika Irma sakila
  • Nilmala wati aeni
  • Rizky aulia ardianty
  • Siti Khadijah
  • Shello mitha kafka

Pelatihan ini diadakan pada hari rabu, 29-01-2025. yang menghabiskan waktu 4 jam, mulai dari jam 09:00 sampai 12:00 dengan pelatih, dan pelatihan ini dilaksanakan langsung di gazebo mudarris pondok pesantren thoha.

                  Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kewajiban dalam mengurus jenazah, meningkatkan keterampilan santriwati untuk menangani jenazah dan persiapan penerus atau kader di kampung – kampung mereka dan meningkatkan kesadaran mandiri dan tidak bergantung kepada Masyarakat lain dalam segala permasalahan yang terjadi. Dan Adapun materi yang diberikan oleh pelatih ialah:

6 Tajhîzul janâzah di pondok pesantren thoha

  • Syarat orang yang memandikan jenazah
  • Beragama islam, baligh, berakal sehat.
  • Berniat memandikan jenazah.
  • Mengetahui hukum memandikan jenazah.
  • Amanah dan menutup aib jenazah yang dimandikan.
  • Perlengkapan yang dibutuhkan untuk memandikan jenazah
  • Air bersih
  • Daun Bidara/daun gol
  • Kapur Barus,minyak wangi Non Alkohol
  • Sabun,sampo
  • Sarung tangan,cotton bud,gunting
  • Kapas
  • Potongan atau gulungan kain kecil
  • Handuk dan kain untuk basahan
  • Air bubuk cendana dll .(jika dibutuhkan)
  • Pampers dan sejenisnya (jika di butuhkan)
  • Tata cara memandikan jenazah

                  suatu prinsip dalam memandikan jenazah adalah mengguyur sekujur tubuh jenazah dengan air sekali guyuran, walaupun jenazah itu adalah orang haid atau junub. Sunnah memandikan jenazah adalah meletakkannya di tempat yang tinggi dan melepas pakaiannya. Kemudian bagian auratnya di tutup dengan kain penutup. Orang yang mengikuti proses pemandian jenazah hanyalah orang yang  di perlukan keikut sertaannya. Orang yang memandikan jenazah hendaknya adalah orang yang dapat di percaya, orang yang saleh dan yang lebih utama dalam memandikan jenazah adalah keluarga si mayyit tersebut agar menyebarkan kebaikan dilihatnya dan menyimpan keburukan yang di lihatnya.

Orang yang memandikan wajib berniat untuk memandikan mayat/jenazah karena dirinya yang mendapatkan perintah memandikan. Kemudian ia memijat perut mayat secara perlahan untuk mengeluarkan najis. Ketika menyentuh aurat, tangan harus dibalut dengan kain karena menyentuh aurat adalah haram.

  • Tahap – tahap yang harus dipersiapkan dan diperhatikan dalam memandikan jenazah yaitu:
  • Jenazah dihadapan ke qiblat dan wajib ditutup.
  • Posisi kepala jenazah sedikit ditinggikan.
  • Tekanlah perutnya perlahan untuk mengeluarkan kotoran kemudian  dibersihkan dengan air dan kain dengan air dan kain dengan memakai sarung tangan.
  • Dibersihkan dari kotoran yang melekat pada bagian tertentu seperti cat, oil / minyak dan lain-lain.
  • Membaca ‘’ bismilahirohmanirohim’’
  • Mewudhukan (sunnah mewudu’kan di awal)
  • Niat memandikan jenazah , boleh di jaharkan suara niat; jenazah Perempuan di tambah Ta’marbutoh.

Lafaz  niat memandikan jenazah lelaki :

                                                                                 نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِهَذَا الْمَيِّتِ لِلَّهِ تَعَالَى

Lafaz  niat memandikan jenazah Perempuan :

                                                                        نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِهَذِهِ الْمَيِّتَةِ لِلَّهِ تَعَالَى                 

  • Menyiramkan air ke seluruh anggota badannya, dimulai dari sebelah kanan baru kiri.
  • Menggosok dimulai sebelah kanan dari mulai kepala, Pundak, dada, perut, tangan dan terus ke bawah sampai kaki dengan memakai air, sabun dan setelah itu dilanjutkan dari sebelah kiri.
  • Kemudian membersihkan punggungnya dimulai dari sebelah kanan lalu sebelah kiri. Dimiringkan kanan terlebih dahalu.
  • Menyiramkan air bersih ke seluruh badannya.
  • Dianjurkan membasuh jenazah dengan 3 kali, 5kali, 7kali, dengan bilangan ganjil sesuai dengan kebutuhan dan keadaan.
  • Membersihkan dua telinga, dua aslinya, dua lubang hidungnya, giginya dengan kain yang di gulung (potong kain yang digulung, kondisional)
  • Menyiramkan air kapur atau sejenisnya jika dibutuhkan.
  • Mewudhukan jenazah, niat wudhu jenazah.

Lafaz niat wudhu jenazah lelaki :

                                                               نَوَيْتُ الْوُضُوْءَ لِهَذَا الْمَيِّتِ لِلَّهِ تَعَالَى
lafaz niat wudhu jenazah Perempuan :

                                                               نَوَيْتُ الْوُضُوْءَ لِهَذِهِ الْمَيِّتِةِ لِلَّهِ تَعَالَى

  • Mengerikan anggota badan dengan handuk atau kain bersih kemudian Bersiap – siap untuk kafani.
  • Mengkafani jenazah

Kain kafan diambil dari harta si mayat / jenazah sendiri jika ia meninggalkan harta. Kalua ia tidak meninggalkan harta, maka kafannya menjadi kewajiban orang yang wajib memberi belanjanya Ketika ia hidup. Kalua yang wajib memberi belanja itu tidak mampu, hendaklah diambil dari Baitul-mal, dan di atur menurut hukum agama islam. Jika Baitul-nal tidak ada atau tidak teratur, maka hal itu menjadi kewajiban muslim yang mampu. Demikian pula keperluan lainnya yang bersangkutan dengan jenazah.

Dalam mengkafani jenazah ada beberapa hal yang harus di perhatikan yaitu :

  1. Kain kafan yang di sunnahkan

Ada beberapa kriteria kain kafan yang disunnahkan oleh Rasulullah SAW yaitu :

  1. Kain yang di gunakan adalah kain bagus, bersih, menutupi.
  2. Kain kafan yang berwarna putih.
  3. Kain kafan sebanyak tiga lapis untuk laki – laki dan lima lapis untuk Perempuan.
  4. Ada perbedaan untuk kain kafan seseorang yang sudah melakukan ihram (haji dan umroh) maka kain kafannya adalah kain ihramnya dan untuk laki – laki tidak ditutupi mukanya.
  5. Urutan tata cara mengkafani
  6. Keutamaan mengkafani jenazah muslim : allah akan berikan sutra halus dan sutera tebal dari surga untuk orang yang mengkafani pada hari kiamat.
  7. Kain kafan diutamakan diambil dari harta mayat / jenazah. Didahulukan sebelum pembayaran hutang, penunian wasiat, dan warisan. Kecuali jika seseorang fakir tidak memiliki apapun boleh dibantu penyediaan kain kafannya oleh kaum muslim yang lain.
  8. Kain kafan sebaiknya berwarna putih, berjumlah 3 lapis,
  9. Tiga lapis kain kafan dibentangkan.
  10. Kain kafan diberi wewangian (tidak mengandung alcohol). Khusus untuk  mayat/jenazah yang meninggal dalam keadaaan ihram tidak boleh diberi wewangian dan tidak boleh ditutup muka kepalanya.
  11. Mayat/jenazah yang telah dimandikan ditutup kain pada bagian auratnya, kemudian diletakkan dalam keadaan telentang pada 3 lapis kafan yang telah disiapkan.
  12. Kapas diberi wewangian kemudian diletakkan pada lipatan pantat dan dibuat semacam pembalut atau celana pendek. Jika seluruh anggota tubuh diberi wewangian, juga baik.
  13. Sisi kain yang ada di sebelah kanan mayat/jenazah dilipatkan sehingga melewati bagian atas dada. Demikian juga bagian kiri dilipat ke bagian ata dada.
  14. Lapisan kain ke-2 dan ke-3 juga dilipat dari sisi samping ke atas melewati dada.
  15. Ujung kain kafan yang lebih dikumpulkan pada bagian kepala dan kaki, kemudian diikat dengan tali. Jumlah ikatan tali tidak ada ketentuan, disesuaikan saat melepaskannhya.
  16. Ikatan tersebut nantinya dilepas pada saat jenazah diletakkan di liang lahad. Usahakan agar simpul ikatan berada di sebelah kiri tubuh sehingga memudahkan saat melepaskannya.
  17. Satu kafan sebagai gamis/baju. Satu kain kafan yang lain sebagai sarung, dan sisa satu kain berikutnya untuk menutupi seluruh tubuh dalam lipatan. Jika jenazahnya Wanita , boleh menggunakan 5 lapis kain : kerudung, sarung, gamis, dan 2 lapis kain.
  18. Menshalatkan jenazah

Shalat jenazah dilakukan kapan saja Ketika jenazah telah siap untuk dishalatkan.

                  Tata cara mensholatkan jenazah:

  1. Jumlah takbir 4 kali.
  2. Niat:
  3. Lafaz niat sholat jenazah laki – laki:
  4. اُصَلِّى عَلَى هَذَاالْمَيِّتِ اَرْبَعَ تَكْبِرَاتٍ فَرْضَ كِفَايَةِ اِمَامً| مَأْمُوْمًا ِللهِ تَعَالَى
  5. Lafaz niat sholat jeznazah Perempuan:
  6. اَرْبَعَ تَكْبِرَاتٍ فَرْضَ كِفَايَةِ اِمَامً| مَأْمُوْمًا ِللهِ تَعَالَى اُصَلِّى عَلَى هَذَاه الـمَيِّتَة
  7. Setelah takbiratul ihram pertama, membaca surat al – fatihah.
  8. Setelah takbir ke-2 membaca sholawat kepada nabi, diutamakan sholawat yang diajarkan nabi dalam tahiyyat sholat (ibrahimiyyah):

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

Dan seterusnya.

  • Setelah takbir ke-3 membaca do’a untuk do’a mayat/jenazah secara khusus sebagaimana yang diajarkan nabi:
  • Do’a untuk laki – laki :
  • اللّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ وَاَكْرِمْ نُزُلَهُ وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ وَاغْسِلْهُ بِلْمَاءِ وَالشَّلْجِ وَالْبَرْدِ
    وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْاَبْيَضُ مِنَ الدَّ نَسِ وَاَبْدِلْهُ دَارً اخَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَاَهْلًا خَيْرًا مِنْ.
    اَهْلِهِ وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ وَادْخِلْهُ الجَنَّةَ وَاعِذْهُ مِنْ عَدَابِ الْقَبرِ وَفِتْنَتِهِ وَمِنْ عَذَابِ النَّارِ
  • Do’a untuk Perempuan :
  • اَللَّهُمَّ اغْفِرْلَها وَارْحَمْهَا وَعَافِهَا وَاعْفُ عَنْهَا، وَأَكْرِمْ نُزُلَهَا، وَوَسِّعْ مَدْخَلَهَا، وَاغْسِلْهَا بِالْمَاءِ
    وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهَا مِنَ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ اْلاَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ. وَأَبْدِلْهَا دَارًا خَيِرًا مِنْ
    دَارِهَا، وَأَهْلًا خَيْرًا مِنْ اَهْلِهَا وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهَا، وَأَدْخِلْهَا الْجَنَّةَ، وَأَعِذْهَا مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ
    وَفِتْنَتِهِ وَمِنْ عَذَابِ النَّارِ
  • Setelah takbir ke-4 membaca do’a untuk kaum muslim dan boleh membaca do’a untuk mayat/jenazah :
  • اللَّهُمَّ لَا تَحْرِمْنَا أَجْرَهُ وَلَا تَفْتِنَا بَعْدَهُ، وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُ
  • Mengucapkan dua kali ( menoleh ke kanan dan kiri) dengan bacaan lengkap.
  • Jika jenazahnya adalah laki – laki, imam berdiri sejajar kepala. Jika jenazahnya Perempuan, imam berdiri di Tengah jenazah.

Menguburkan jenazah

                  Membawa jenazah untuk dikuburkan adalah tanda memuliakannya dan hukunnya fardhu kifayah, mengusung dan menguburkan jenazah adalah khusus bagi laki – laki saja meskipun Wanita dikarenakan :

  1. Sebab sudah demikian dsari zaman Rasulullah SAW sampai sekarang.
  2. Laki – laki kuat dari Wanita.
  3. Di kuatirkan terbuka aurat Wanita di Tengah orang banyak dan hal ini kurang baik. Dan yang harus menurunkan jenazah keliang kubur / lahat adalah keluarga yang laki – laki.

Sekian thoriqoh Tajhîzul janâzah kami semoga bermanfaat juga bagi pembaca.