“Hidupilah Pondok, Jangan Menggantungkan Hidup pada Pondok”
Oleh: Ahmad Dahlan
Di antara nasihat klasik namun sarat makna yang diwariskan oleh para kiai pesantren adalah: “Hidupilah pondok, jangan menggantungkan hidup pada pondok.”
Ungkapan ini bukan sekadar kalimat motivasi, melainkan falsafah hidup yang membentuk karakter warga pesantren: hidup mandiri, bertanggung jawab, dan penuh pengabdian.Pesantren bukan tempat mencari kenyamanan hidup, tetapi medan perjuangan dan pengabdian.
Di sinilah orang belajar mengabdi sebelum memimpin, memberi sebelum menerima, dan berkorban sebelum menuntut. Maka, siapa pun yang tinggal dan menjadi bagian dari pondok harus memiliki tekad untuk “menghidupi pondok” membangun, menjaga, dan menyuburkan cita-cita luhur yang menjadi dasar pendiriannya.
Kiai Syamsul Hadi Abdan, salah satu Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, pernah menyampaikan: “Orang yang datang ke pondok untuk mencari penghidupan, tidak akan hidup. Tapi orang yang datang ke pondok untuk menghidupi, ia akan hidup bahkan menghidupkan yang lain.”
Kalimat ini menegaskan bahwa nilai seseorang di pesantren tidak diukur dari seberapa besar yang ia peroleh, tetapi seberapa besar yang ia berikan.
Dalam tradisi pesantren, pendiri atau muassis pondok tidak pernah membangun lembaga untuk kepentingan pribadi. Mereka membangun dengan semangat wakaf, ikhlas tanpa pamrih, dan mengharapkan keberkahan ilmu serta keberlanjutan dakwah. Maka, generasi setelahnya berkewajiban untuk meneruskan, menjaga, dan mengembangkan pondok sesuai cita-cita luhur tersebut.
Menghidupi pondok berarti siap membersamai perjuangan lembaga dalam berbagai aspek: pendidikan, dakwah, sosial, bahkan kemandirian ekonomi. Ini memerlukan partisipasi aktif seluruh warga pondok: dari santri yang disiplin dan tekun, ustadz yang ikhlas dan berdedikasi, hingga pengurus yang profesional dan visioner.
Sebaliknya, menggantungkan hidup pada pondok dalam arti menjadikan pondok sebagai sandaran ekonomi pribadi tanpa kontribusi berarti akan menggerus semangat perjuangan dan menurunkan marwah pondok itu sendiri. Inilah yang dikhawatirkan oleh para pendiri pondok-pesantren, bahwa semangat awal yang berbasis wakaf, perjuangan, dan pengorbanan berubah menjadi rutinitas kerja dan kepentingan pragmatis.
Kiai Hasan Abdullah Sahal menegaskan dalam banyak kesempatan: “Pondok ini berdiri karena keikhlasan, dan hanya bisa bertahan dengan keikhlasan. Kalau hilang keikhlasan, hilang pula nyawa pondok itu.”
Keikhlasan itu bukan hanya dalam bekerja tanpa pamrih, tapi juga dalam memberi lebih dari yang diminta, dan berjuang lebih dari yang diperintah.Semangat untuk menghidupi pondok adalah warisan tak ternilai dari para kiai. Ia harus terus dirawat dalam kesadaran kolektif warga pondok. Selama pondok masih dihidupi dengan jiwa perjuangan, selama itu pula ia akan hidup, tumbuh, dan menjadi sumber kehidupan bagi banyak jiwa.




