
KRITIK SAYA PADA KBC
Kurikulum Berbasis Cinta, Belajar dari Pesantren
Oleh: Ahmad Dahlan
Belakangan ini pemerintah menggagas Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) sebagai upaya memperkuat pendidikan karakter. Gagasannya terdengar indah, pendidikan tidak hanya mengasah otak, tetapi juga membentuk hati yang penuh kasih. Namun, muncul pertanyaan besar: bagaimana cinta itu benar-benar hidup di sekolah?
Jika kita bicara soal pendidikan berbasis hati, sebenarnya pesantren sudah melakukannya jauh sebelum istilah ini lahir.
Di pondok, anak-anak dididik bukan hanya lewat buku dan ujian, tetapi melalui suasana, kebersamaan, dan keteladanan guru. Pendidikan di pesantren itu hidup, karena yang mendidik bukan sekadar kurikulum, melainkan manusia yang hadir dengan cinta.
Ki Hajar Dewantara pernah berkata:
“Pendidikan itu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar mereka sebagai manusia dan anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.”
Kata “menuntun” ini sejatinya adalah wujud cinta: mengarahkan dengan kasih, bukan memaksa.
Belajar dari pesantren: cinta bukan sekadar kata
Di pesantren, cinta tidak perlu ditulis di spanduk atau program kerja. Ia hadir dalam keseharian:
- Guru yang sabar menunggu santri kecil menghafal walau terbata-bata.
- Ustaz yang mengajak makan bersama untuk mendekatkan hati.
- Kiai, TGH, yang menyapa santri satu per satu dengan jabatan tangan, dan tatapan penuh doa.
KH. Abdullah Syukri Zarkasyi (almarhum) pernah menegaskan:
_“Pendidikan itu hadir dalam kepribadian guru. Guru adalah kurikulum hidup.” Semua yang dilakukan guru cara berpakaian, bersikap, bahkan diamnya sampai potongan rambutnya adalah pendidikan.
Jika KBC hanya dituangkan dalam dokumen panjang tanpa keteladanan nyata, yang terjadi hanyalah administrasi “pura-pura cinta”.
Kritik pesantren untuk KBC
Ada beberapa catatan penting jika pemerintah ingin KBC berhasil:
- Jangan hanya berhenti di jargon. Cinta itu abstrak, sehingga perlu diterjemahkan dalam tindakan nyata. Jika tidak, KBC hanya jadi spanduk besar di gerbang sekolah.
- Jangan membebani guru dengan administrasi baru. Di pesantren, cinta tidak diukur dari banyaknya laporan, tetapi dari perubahan akhlak santri. Jika KBC menambah lembar evaluasi yang rumit, maka ruhnya justru hilang.
- Seimbangkan cinta dan ketegasan. Di pondok, cinta selalu berjalan bersama disiplin. Membiarkan murid bebas tanpa batas atas nama cinta justru merusak karakter mereka.
- Hati-hati dengan formalisasi berlebihan. Jika setiap aksi “cinta” harus dilaporkan, yang terjadi adalah guru sibuk mencari bukti foto, bukan benar-benar mendampingi murid.
Solusi sinergikan dengan tradisi pesantren
Jika pemerintah serius, maka KBC harus bersinergi dengan tradisi pesantren, bukan berjalan sendiri. Beberapa langkah yang bisa dilakukan:
- Libatkan pesantren sebagai rujukan utama. Pemerintah perlu menggandeng kiai dan ustaz senior yang sudah terbiasa mendidik dengan hati, bukan hanya pakar teori.
- Fokus pada guru sebagai teladan. Sehebat apapun kurikulumnya, jika guru tidak menjadi sosok yang dirindukan murid, KBC akan gagal.
- Bangun suasana, bukan sekadar program. Di pesantren, kebersamaan seperti shalat berjamaah, gotong royong, dan makan bersama menumbuhkan cinta secara alami.
- Gunakan bahasa nilai yang membumi. Istilah tarbiyah dan ta’dib lebih dekat dengan masyarakat ketimbang jargon asing yang kering makna.
- Tanamkan basis spiritual. Cinta yang mendidik harus bertaut pada Allah, agar tidak berubah menjadi perasaan sesaat yang rapuh.
Di Pesantren guru adalah kurikulum hidup
Akhirnya, kita kembali pada pelajaran terbesar dari pesantren, guru adalah kurikulum hidup. Anak-anak akan belajar cinta bukan dari definisi di buku, tetapi dari cara guru menyapa mereka setiap pagi, dari kesabaran guru yang tidak mudah marah, dan dari doa-doa yang tulus mereka panjatkan.
KH. Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah) pernah berpesan,
“Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah.” Maknanya serupa: cinta adalah pengorbanan, bukan mencari keuntungan.
Jika pemerintah ingin KBC berhasil, jangan memulai dari kertas. Mulailah dari guru, karena di tangan merekalah cinta bisa terasa nyata di ruang-ruang kelas.




