Belajar dari Pertanyaan, Strategi Pembelajaran Santri di Era AI
Hitam Putih Modern Streetwear Logo

Belajar dari Pertanyaan, Strategi Pembelajaran Santri di Era AI

Oleh: Ahmad Dahlan

Di tengah gempuran teknologi dan derasnya arus informasi, pola pembelajaran di pesantren juga perlu menyesuaikan diri tanpa kehilangan ruh pendidikannya. Salah satu pendekatan yang mulai diterapkan di beberapa ruang kelas adalah pembelajaran berbasis pertanyaan sebuah metode sederhana namun sarat makna, yang justru mengakar kuat dalam tradisi keilmuan klasik Islam.

Dari Resume Menuju Pertanyaan

Skenarionya sederhana. Guru menyusun resume materi pelajaran, ringkasan padat dan sistematis dari bab-bab yang telah atau akan diajarkan. Resume ini kemudian difotokopi dan dibagikan kepada seluruh santri.

Namun yang menarik bukan di bagian resume-nya, tapi apa yang diminta guru setelahnya: “Setiap santri membuat lima soal dari resume ini.” Bukan sembarang soal, melainkan soal yang menuntut pemahaman, analisa, bahkan sintesis.

Setelah semua soal terkumpul, guru akan menyeleksi, mendiskusikan, dan memilih pertanyaan terbaik. Soal-soal buatan santri inilah yang akan digunakan sebagai soal ujian tengah atau akhir semester.

Manfaat, Santri Jadi Aktor Belajar

Metode ini menggeser posisi santri dari objek pasif menjadi subjek aktif dalam proses belajar. Mereka tidak hanya dituntut menghafal atau mencatat, tetapi dilatih untuk berpikir, memahami, dan menyusun kerangka nalar.

Dengan membuat soal, santri:

  • Belajar memahami inti materi
  • Melatih kemampuan merumuskan ide
  • Mengasah daya kritis dan analitis
  • Terbiasa menyusun logika berpikir yang rapi

Ini adalah soft skill yang jarang diasah dalam model pembelajaran tradisional, padahal sangat dibutuhkan di dunia modern.

“Pendidikan bukanlah mengisi bejana kosong, tetapi menyalakan api.”
William Butler Yeats

Ungkapan ini sejalan dengan pendekatan bertanya, bukanBelajar dari Pertanyaan, Strategi Pembelajaran Santri di Era AI

Oleh: Ahmad Dahlan

Di tengah gempuran teknologi dan derasnya arus informasi, pola pembelajaran di pesantren juga perlu menyesuaikan diri tanpa kehilangan ruh pendidikannya. Salah satu pendekatan yang mulai kita terapkan di beberapa ruang kelas adalah pembelajaran berbasis pertanyaan sebuah metode sederhana namun sarat makna, yang justru mengakar kuat dalam tradisi keilmuan klasik Islam.

Dari Resume Menuju Pertanyaan

Skenarionya sederhana. Guru menyusun resume materi pelajaran, ringkasan padat dan sistematis dari bab-bab yang telah atau akan diajarkan. Resume ini kemudian difotokopi dan dibagikan kepada seluruh santri.

Namun yang menarik bukan di bagian resume-nya, tapi apa yang diminta guru setelahnya: “Setiap santri membuat lima soal dari resume ini.” Bukan sembarang soal, melainkan soal yang menuntut pemahaman, analisa, bahkan sintesis.

Setelah semua soal terkumpul, guru akan menyeleksi, mendiskusikan, dan memilih pertanyaan terbaik. Soal-soal buatan santri inilah yang akan digunakan sebagai soal ujian tengah atau akhir semester.

Manfaat, Santri Jadi Aktor Belajar

Metode ini menggeser posisi santri dari objek pasif menjadi subjek aktif dalam proses belajar. Mereka tidak hanya dituntut menghafal atau mencatat, tetapi dilatih untuk berpikir, memahami, dan menyusun kerangka nalar.

Dengan membuat soal, santri:

  • Belajar memahami inti materi
  • Melatih kemampuan merumuskan ide
  • Mengasah daya kritis dan analitis
  • Terbiasa menyusun logika berpikir yang rapi

Ini adalah soft skill yang jarang diasah dalam model pembelajaran tradisional, padahal sangat dibutuhkan di dunia modern.

“Pendidikan bukanlah mengisi bejana kosong, tetapi menyalakan api.”
William Butler Yeats

Ungkapan ini sejalan dengan pendekatan bertanya, bukan menuangkan isi pikiran guru ke kepala santri, melainkan menyalakan rasa ingin tahu yang memicu pencarian pengetahuan.

Di Era AI, Kualitas Pertanyaan adalah Kunci

Kita hidup di zaman yang tidak kekurangan jawaban. AI seperti ChatGPT bisa menjawab ribuan pertanyaan dalam hitungan detik. Namun pertanyaannya, apa yang harus ditanyakan?

Inilah yang menjadi tantangan. Jika seseorang tidak cakap menyusun pertanyaan, maka teknologi secanggih apa pun tidak akan berguna. Sebaliknya, jika seseorang mampu bertanya dengan tepat, maka AI bisa menjadi alat bantu belajar yang luar biasa.

Tak heran jika dalam khazanah Arab dikatakan:

“السُّؤَالُ نِصْفُ الْعِلْمِ”
“Pertanyaan adalah separuh dari ilmu.”

Ungkapan ini menegaskan bahwa bertanya bukanlah tanda ketidaktahuan, melainkan langkah awal menuju pemahaman. Siapa yang bertanya, dia sedang membuka pintu ilmu.

“Kualitas hidup seseorang bergantung pada kualitas pertanyaannya.”
Tony Robbins

Dalam konteks pendidikan, kualitas belajar santri bergantung pada kualitas pertanyaan yang mampu ia bangun.

Dr. Tony Wagner dari Harvard Innovation Lab bahkan menegaskan:

“Hari ini, kita tidak sedang kekurangan informasi, tetapi kekurangan kemampuan untuk bertanya dan berpikir kritis.”

Maka pertanyaan bukan lagi pelengkap pelajaran, tapi jantung dari proses belajar di abad ini.

Menjaga Tradisi Ilmu, Menyongsong Masa Depan

Jika kita menengok sejarah ulama-ulama besar, banyak dari mereka tumbuh dalam tradisi debat, dialog, dan munazharah tradisi bertanya dan saling menanggapi. Seperti perdebatan imam syafi’i dengan gurunya Imam malik tentang “rezeki,” “Rezeki: antara duduk menanti dan keluar mencari.” Maka pendekatan berbasis pertanyaan ini bukan sesuatu yang asing, melainkan justru kembali ke akar, tetapi dalam format yang disesuaikan dengan zaman.

Dengan pendekatan seperti ini, pesantren bukan hanya menjaga tradisi keilmuan, tapi juga membuka jalan bagi generasi santri untuk unggul di dunia digital yang serba cepat.

Karena sejatinya, belajar bukan soal mengumpulkan jawaban, tapi menggali pertanyaan-pertanyaan yang benar.

“Siapa yang menguasai pertanyaan, dialah yang menguasai masa depan.”
Ahmad Dahlan menuangkan isi pikiran guru ke kepala santri, melainkan menyalakan rasa ingin tahu yang memicu pencarian pengetahuan.

Di Era AI, Kualitas Pertanyaan adalah Kunci

Kita hidup di zaman yang tidak kekurangan jawaban. AI seperti ChatGPT bisa menjawab ribuan pertanyaan dalam hitungan detik. Namun pertanyaannya, apa yang harus ditanyakan?

Inilah yang menjadi tantangan. Jika seseorang tidak cakap menyusun pertanyaan, maka teknologi secanggih apa pun tidak akan berguna. Sebaliknya, jika seseorang mampu bertanya dengan tepat, maka AI bisa menjadi alat bantu belajar yang luar biasa.

Tak heran jika dalam khazanah Arab dikatakan:

“السُّؤَالُ نِصْفُ الْعِلْمِ”
“Pertanyaan adalah separuh dari ilmu.”

Ungkapan ini menegaskan bahwa bertanya bukanlah tanda ketidaktahuan, melainkan langkah awal menuju pemahaman. Siapa yang bertanya, dia sedang membuka pintu ilmu.

“Kualitas hidup seseorang bergantung pada kualitas pertanyaannya.”
Tony Robbins

Dalam konteks pendidikan, kualitas belajar santri bergantung pada kualitas pertanyaan yang mampu ia bangun.

Dr. Tony Wagner dari Harvard Innovation Lab bahkan menegaskan:

“Hari ini, kita tidak sedang kekurangan informasi, tetapi kekurangan kemampuan untuk bertanya dan berpikir kritis.”

Maka pertanyaan bukan lagi pelengkap pelajaran, tapi jantung dari proses belajar di abad ini.

Menjaga Tradisi Ilmu, Menyongsong Masa Depan

Jika kita menengok sejarah ulama-ulama besar, banyak dari mereka tumbuh dalam tradisi debat, dialog, dan munazharah tradisi bertanya dan saling menanggapi. Seperti perdebatan imam syafi’i dengan gurunya Imam malik tentang “rezeki,” “Rezeki: antara duduk menanti dan keluar mencari.” Maka pendekatan berbasis pertanyaan ini bukan sesuatu yang asing, melainkan justru kembali ke akar, tetapi dalam format yang disesuaikan dengan zaman.

Dengan pendekatan seperti ini, pesantren bukan hanya menjaga tradisi keilmuan, tapi juga membuka jalan bagi generasi santri untuk unggul di dunia digital yang serba cepat.

Karena sejatinya, belajar bukan soal mengumpulkan jawaban, tapi menggali pertanyaan-pertanyaan yang benar.

“Siapa yang menguasai pertanyaan, dialah yang menguasai masa depan.”
Ahmad Dahlan